Jagad Batin | Pemikiran Syekh Abdul Qadir Al-Jailani: Penyucian Hati, Keikhlasan, Tawakal, Zuhud, dan Perjuangan Melawan Hawa Nafsu | Syekh Abdul Qadir Al-Jailani (1077–1166 M) merupakan salah satu ulama dan tokoh sufi paling berpengaruh dalam sejarah Islam. Ia dikenal sebagai pendakwah, ahli fikih bermazhab Hanbali, pembimbing spiritual, serta tokoh yang namanya menjadi dasar perkembangan Tarekat Qadiriyah.
Pemikiran tasawuf Syekh Abdul Qadir Al-Jailani menekankan pentingnya penyucian hati, keikhlasan dalam beribadah, tawakal kepada Allah, kehidupan zuhud, serta perjuangan melawan hawa nafsu. Baginya, perjalanan spiritual bukan sekadar memperbanyak amalan lahiriah, melainkan juga membangun kesadaran batin agar seluruh kehidupan manusia diarahkan kepada keridaan Allah.
Ia mengajarkan bahwa seorang Muslim harus menjaga hubungan dengan Allah sekaligus memperbaiki hubungannya dengan sesama manusia. Kesalehan tidak cukup diwujudkan melalui ibadah pribadi, tetapi harus tercermin dalam kejujuran, kerendahan hati, kepedulian sosial, dan perilaku yang baik. Tokohwanita.or.id
Keistimewaan pemikiran Abdul Qadir Al-Jailani terletak pada perpaduan antara syariat dan tasawuf. Ia tidak memandang keduanya sebagai dua jalan yang saling bertentangan. Syariat memberikan pedoman bagi tindakan manusia, sedangkan tasawuf membimbing manusia untuk memperbaiki niat dan keadaan hatinya.
Melalui pengajaran, ceramah, dan karya-karyanya, ia memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan tasawuf Sunni. Ajarannya kemudian diwariskan melalui tradisi Qadiriyah yang berkembang di berbagai wilayah dunia Islam, termasuk Afrika, India, Asia Tenggara, dan Indonesia.
Biografi Syekh Abdul Qadir Al-Jailani: Kehidupan dan Perjalanan Keilmuan
Nama Lengkap dan Asal-Usul Abdul Qadir Al-Jailani
Nama yang dikenal luas dalam sejarah Islam adalah Abdul Qadir Al-Jailani. Nama lengkapnya sering ditulis sebagai Muhyiddin Abu Muhammad Abdul Qadir bin Musa Al-Jailani.
Ia juga dikenal dengan sebutan Al-Ghawts al-A'zam dan Sulthan al-Auliya dalam tradisi penghormatan para pengikutnya. Gelar-gelar tersebut merupakan bagian dari tradisi penghormatan spiritual, bukan jabatan resmi dalam struktur pemerintahan.
Abdul Qadir Al-Jailani dilahirkan pada tahun 470 H atau sekitar 1077–1078 M di wilayah Jilan atau Gilan, kawasan Persia yang terletak di sebelah selatan Laut Kaspia.
Sejumlah riwayat menyebutkan bahwa ia berasal dari keluarga yang memiliki hubungan dengan keturunan Nabi Muhammad SAW. Namun, rincian silsilah tersebut terdapat dalam tradisi biografi yang berkembang kemudian dan perlu dibedakan dari informasi sejarah yang lebih kuat.
Sejak kecil, ia dikenal dalam tradisi biografinya sebagai pribadi yang memiliki ketertarikan terhadap ilmu agama dan kehidupan spiritual.
Perjalanan Menuntut Ilmu ke Baghdad
Ketika berusia sekitar delapan belas tahun, Abdul Qadir Al-Jailani berangkat ke Baghdad untuk memperdalam ilmu agama.
Pada masa itu, Baghdad merupakan salah satu pusat pendidikan dan kebudayaan Islam. Kota tersebut menjadi tempat berkumpulnya ulama fikih, ahli hadis, teolog, filsuf, dan tokoh tasawuf.
Di Baghdad, ia mempelajari fikih mazhab Hanbali, hadis, tafsir, bahasa Arab, dan berbagai disiplin ilmu keislaman.
Pendidikan fikih memiliki pengaruh besar terhadap pemikirannya. Hal tersebut terlihat dari penekanannya bahwa kehidupan spiritual harus tetap berada dalam bimbingan Al-Qur'an dan Sunnah.
Ia tidak mengajarkan bahwa seseorang dapat meninggalkan kewajiban agama dengan alasan telah mencapai tingkat spiritual tertentu.
Mempelajari Tasawuf dan Pembinaan Rohani
Selain mempelajari ilmu-ilmu keislaman, Abdul Qadir Al-Jailani juga mendalami tasawuf.
Dalam tradisi biografinya, ia dikaitkan dengan sejumlah tokoh pembimbing spiritual di Baghdad, termasuk Abu al-Khair Hammad al-Dabbas.
Pengalaman tersebut membentuk pemahamannya mengenai penyucian jiwa, pengendalian hawa nafsu, kesabaran, dan keikhlasan.
Tasawuf baginya bukan sekadar pembahasan mengenai pengalaman mistik. Tasawuf merupakan jalan pendidikan akhlak yang bertujuan membersihkan hati dari sifat-sifat tercela.
Melalui latihan spiritual, manusia diharapkan mampu mengendalikan kesombongan, keserakahan, iri hati, dan kecenderungan berlebihan terhadap kehidupan dunia.
Masa Pengasingan dan Kehidupan Zuhud
Sejumlah sumber biografis menceritakan bahwa Abdul Qadir Al-Jailani pernah menjalani masa pengasingan dan kehidupan menyendiri di sekitar wilayah Irak.
Riwayat tersebut menggambarkan periode ketika ia berusaha memperkuat pengendalian diri dan membangun kedekatan kepada Allah.
Dalam tradisi tasawuf, kehidupan menyendiri dapat menjadi sarana untuk mengurangi gangguan duniawi dan memperbanyak refleksi spiritual.
Namun, zuhud tidak berarti manusia harus selamanya meninggalkan masyarakat. Kehidupan Abdul Qadir Al-Jailani setelah kembali mengajar di Baghdad justru memperlihatkan pentingnya menggabungkan pembinaan rohani dengan pengabdian sosial.
Menjadi Guru dan Pendakwah di Baghdad
Sekitar tahun 1127 M, Abdul Qadir Al-Jailani mulai dikenal luas sebagai guru dan pendakwah di Baghdad.
Ceramah-ceramahnya menarik perhatian banyak orang dari berbagai lapisan masyarakat. Ia membahas persoalan akidah, ibadah, akhlak, kehidupan spiritual, dan tanggung jawab manusia kepada Allah.
Pada tahun 1130-an, ia memiliki lembaga pendidikan dan tempat pembinaan yang menjadi pusat kegiatan pengajaran serta bimbingan rohani.
Kegiatan tersebut menjadikan Baghdad sebagai pusat penting bagi perkembangan pengaruhnya. Murid-murid yang belajar kepadanya kemudian menyebarkan ajaran dan tradisi spiritual yang dikaitkan dengan namanya.
Wafatnya Syekh Abdul Qadir Al-Jailani
Abdul Qadir Al-Jailani wafat pada tahun 561 H atau 1166 M di Baghdad.
Setelah wafatnya, penghormatan terhadap dirinya semakin berkembang. Murid, keluarga, dan generasi berikutnya meneruskan pengajaran serta tradisi spiritual yang dikaitkan dengannya.
Dalam perkembangan selanjutnya, tradisi tersebut menjadi salah satu dasar terbentuknya Tarekat Qadiriyah.
Para peneliti membedakan antara kehidupan historis Abdul Qadir Al-Jailani dan berbagai kisah karamah yang berkembang dalam literatur penghormatan kepadanya. Perbedaan tersebut penting agar pembahasan sejarah tetap memperhatikan sumber dan konteksnya.
Pemikiran Tasawuf Syekh Abdul Qadir Al-Jailani
Penyucian Hati sebagai Dasar Perjalanan Spiritual
Salah satu pokok utama ajaran Abdul Qadir Al-Jailani adalah penyucian hati atau tazkiyatun nafs.
Ia menekankan bahwa hati memiliki kedudukan penting dalam kehidupan manusia karena niat, keikhlasan, dan kualitas batin memengaruhi perilaku seseorang.
Hati yang dipenuhi kesombongan, iri hati, keserakahan, dan kecintaan berlebihan terhadap dunia akan menghalangi manusia untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Karena itu, seorang pencari jalan spiritual harus berusaha membersihkan batinnya dari sifat-sifat tercela.
Penyucian hati bukan pekerjaan yang selesai dalam satu waktu. Ia merupakan proses panjang yang membutuhkan kesungguhan, pengawasan diri, ibadah, dan pertobatan.
Abdul Qadir Al-Jailani mengingatkan bahwa seseorang tidak seharusnya merasa sudah suci hanya karena memiliki banyak pengetahuan agama atau menjalankan sejumlah amalan.
Kesucian batin perlu dibuktikan melalui kerendahan hati, kesabaran, kejujuran, dan perilaku yang mencerminkan ketaatan kepada Allah.
Keikhlasan dalam Beribadah
Keikhlasan atau ikhlas merupakan unsur penting dalam ajaran tasawuf Abdul Qadir Al-Jailani.
Ikhlas berarti mengarahkan ibadah kepada Allah, bukan untuk memperoleh pujian, penghormatan, kedudukan, atau keuntungan duniawi.
Seseorang mungkin melakukan banyak amalan, tetapi nilai spiritualnya dapat terganggu apabila niatnya didominasi keinginan untuk dipandang baik oleh orang lain.
Karena itu, Abdul Qadir Al-Jailani mengajarkan pentingnya memperbaiki niat sebelum, selama, dan setelah melakukan suatu perbuatan.
Keikhlasan juga berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Bekerja, membantu sesama, mendidik keluarga, dan menjalankan tanggung jawab sosial dapat bernilai ibadah apabila dilakukan dengan niat yang benar dan cara yang sesuai dengan ajaran agama.
Dalam pandangan ini, tasawuf bukan hanya kegiatan ritual, melainkan pendidikan batin yang memengaruhi seluruh tindakan manusia.
Tawakal kepada Allah
Tawakal merupakan sikap berserah diri kepada Allah setelah manusia melakukan usaha yang benar.
Abdul Qadir Al-Jailani menekankan bahwa seorang hamba tidak boleh menggantungkan seluruh harapannya kepada kekuatan dirinya sendiri atau kepada kekayaan duniawi.
Manusia harus menyadari keterbatasannya dan meyakini bahwa segala hasil berada dalam ketentuan Allah.
Namun, tawakal tidak berarti meninggalkan pekerjaan, mengabaikan tanggung jawab, atau menolak usaha.
Seorang Muslim tetap harus berikhtiar, bekerja, mencari ilmu, dan memenuhi kewajibannya. Setelah itu, ia menyerahkan hasilnya kepada Allah dengan hati yang tenang.
Sikap tawakal membantu manusia menghadapi keberhasilan tanpa kesombongan dan menghadapi kegagalan tanpa kehilangan harapan.
Zuhud dan Tidak Diperbudak Kehidupan Dunia
Zuhud merupakan salah satu tema penting dalam ceramah dan pengajaran Abdul Qadir Al-Jailani.
Zuhud berarti tidak menjadikan dunia sebagai tujuan tertinggi kehidupan. Harta, jabatan, popularitas, dan kesenangan tidak boleh menguasai hati hingga manusia melupakan Allah dan kewajiban moralnya.
Akan tetapi, zuhud tidak identik dengan kemiskinan atau larangan memiliki kekayaan.
Seseorang dapat memiliki harta dan tetap hidup zuhud apabila kekayaan tersebut tidak menguasai hatinya dan digunakan melalui jalan yang baik.
Sebaliknya, seseorang dapat hidup sederhana tetapi tetap memiliki keterikatan batin yang sangat kuat terhadap dunia.
Dengan demikian, zuhud lebih berkaitan dengan sikap hati daripada sekadar keadaan ekonomi seseorang.
Perjuangan Melawan Hawa Nafsu
Abdul Qadir Al-Jailani menekankan pentingnya perjuangan melawan hawa nafsu atau mujahadatun nafs.
Hawa nafsu dapat mendorong manusia untuk melakukan sesuatu yang bertentangan dengan nilai agama dan akhlak.
Keinginan memperoleh pujian, kecenderungan membalas keburukan, keserakahan, dan kesombongan merupakan contoh dorongan batin yang harus dikendalikan.
Perjuangan melawan hawa nafsu bukan berarti membenci seluruh keinginan manusia. Manusia tetap membutuhkan makan, istirahat, keluarga, pekerjaan, dan kehidupan sosial.
Yang harus dikendalikan adalah keinginan yang membuat manusia melampaui batas, merugikan orang lain, dan melupakan tanggung jawabnya kepada Allah.
Dalam perjalanan tasawuf, pengendalian diri menjadi dasar bagi terbentuknya kepribadian yang lebih tenang dan bertanggung jawab.
Taubat sebagai Jalan Kembali kepada Allah
Taubat merupakan pintu penting dalam perjalanan spiritual.
Manusia tidak terbebas dari kesalahan. Ia dapat melakukan dosa, melanggar janji, menyakiti orang lain, atau terjerumus dalam kebiasaan buruk.
Abdul Qadir Al-Jailani mengajarkan pentingnya menyadari kesalahan dan kembali kepada Allah dengan sungguh-sungguh.
Taubat tidak cukup hanya diucapkan. Ia harus disertai penyesalan, penghentian perbuatan buruk, tekad untuk tidak mengulanginya, serta penyelesaian hak orang lain apabila kesalahan tersebut berkaitan dengan sesama manusia.
Melalui taubat, manusia tidak terus-menerus terperangkap dalam masa lalunya. Ia memperoleh kesempatan untuk memperbaiki kehidupan dan membangun hubungan yang lebih baik dengan Allah.
Sabar dalam Menghadapi Ujian Kehidupan
Sabar merupakan bagian penting dari pendidikan spiritual Abdul Qadir Al-Jailani.
Kehidupan manusia selalu menghadirkan ujian, baik dalam bentuk kesulitan ekonomi, kehilangan, penyakit, kegagalan, maupun konflik dengan sesama.
Sabar bukan berarti tidak boleh merasakan kesedihan. Sabar berarti menjaga keimanan dan perilaku agar tidak dikuasai keputusasaan ketika menghadapi keadaan sulit.
Orang yang sabar tetap berusaha mencari jalan keluar, tetapi tidak membiarkan penderitaan membuatnya kehilangan kejujuran dan keteguhan hati.
Dalam pemikiran tasawuf, sabar membantu manusia menerima kenyataan tanpa berhenti berusaha memperbaiki keadaan.
Syukur atas Nikmat Allah
Syukur merupakan sikap menyadari bahwa segala nikmat berasal dari Allah.
Manusia sering kali lebih mudah memperhatikan sesuatu yang belum dimiliki daripada menghargai nikmat yang telah diterimanya.
Abdul Qadir Al-Jailani menekankan pentingnya membangun kesadaran bahwa kehidupan, kesehatan, ilmu, keluarga, dan kesempatan untuk beribadah merupakan karunia yang patut disyukuri.
Syukur tidak cukup hanya diucapkan melalui lisan. Ia juga harus diwujudkan melalui penggunaan nikmat secara benar.
Ilmu digunakan untuk kebaikan, harta digunakan melalui jalan yang halal, dan kekuatan digunakan untuk membantu sesama.
Mahabbah atau Cinta kepada Allah
Cinta kepada Allah atau mahabbah merupakan salah satu tema penting dalam kehidupan spiritual.
Cinta Ilahi mendorong manusia untuk mendekatkan diri kepada Allah bukan hanya karena mengharapkan balasan, tetapi juga karena menyadari kebesaran dan kasih sayang-Nya.
Cinta tersebut harus tercermin dalam ketaatan, keikhlasan, dan kesungguhan menjalankan perintah agama.
Dalam pemikiran Abdul Qadir Al-Jailani, kecintaan kepada Allah tidak dapat dipisahkan dari ketaatan terhadap syariat. Cinta yang benar tidak menjadi alasan untuk meninggalkan kewajiban, melainkan menjadi kekuatan untuk menjalankannya dengan lebih sungguh-sungguh.
Hubungan Syariat dan Hakikat dalam Pemikiran Abdul Qadir Al-Jailani
Syariat sebagai Landasan Kehidupan Spiritual
Salah satu ciri penting tasawuf Abdul Qadir Al-Jailani adalah penekanannya terhadap syariat sebagai landasan perjalanan spiritual.
Syariat merupakan pedoman yang mengatur hubungan manusia dengan Allah dan hubungan manusia dengan sesamanya. Di dalamnya terdapat ketentuan mengenai akidah, ibadah, muamalah, dan akhlak.
Menurut pendekatan tasawuf yang diajarkannya, seseorang tidak dapat mengaku telah mencapai kedekatan kepada Allah apabila ia justru mengabaikan kewajiban agama.
Ibadah seperti salat, puasa, zakat, dan kewajiban lainnya tetap harus dilaksanakan. Pengalaman batin tidak boleh dijadikan alasan untuk meninggalkan ketentuan agama.
Karena itu, Abdul Qadir Al-Jailani dikenal sebagai tokoh yang menggabungkan kedalaman spiritual dengan ketaatan terhadap ajaran Islam.
Hakikat sebagai Kedalaman Makna Ibadah
Hakikat dalam pembahasan tasawuf berkaitan dengan pemahaman batin mengenai makna dan tujuan kehidupan beragama.
Seseorang tidak cukup hanya menjalankan ibadah sebagai gerakan lahiriah. Ia juga harus memahami bahwa ibadah merupakan bentuk penghambaan kepada Allah.
Salat, misalnya, bukan hanya rangkaian gerakan dan bacaan, tetapi juga latihan untuk membangun kesadaran, ketundukan, dan hubungan dengan Allah.
Demikian pula puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus, melainkan juga pendidikan untuk mengendalikan keinginan dan menjaga perilaku.
Dengan demikian, syariat dan hakikat saling melengkapi. Syariat memberikan bentuk dan pedoman, sedangkan kesadaran hakikat membantu manusia memahami kedalaman makna ibadah.
Menolak Kesombongan Spiritual
Abdul Qadir Al-Jailani menekankan pentingnya kerendahan hati dalam perjalanan spiritual.
Seseorang yang merasa memiliki kedudukan rohani tinggi dapat terjebak dalam kesombongan apabila menganggap dirinya lebih suci daripada orang lain.
Kesombongan spiritual merupakan penghalang bagi penyucian hati karena manusia mulai menjadikan pengalaman dan amalnya sebagai alasan untuk merendahkan sesama.
Karena itu, pencari jalan spiritual harus terus melakukan introspeksi dan menyadari keterbatasan dirinya.
Kedekatan kepada Allah seharusnya membuat manusia semakin rendah hati, bukan semakin merasa berkuasa atau istimewa.
Pandangan Abdul Qadir Al-Jailani tentang Akhlak dan Kehidupan Sosial
Akhlak sebagai Bukti Kesungguhan Beragama
Dalam ajaran Abdul Qadir Al-Jailani, kesalehan tidak hanya diukur melalui banyaknya ibadah pribadi. Akhlak memiliki kedudukan penting sebagai bukti kesungguhan seseorang dalam menjalani kehidupan beragama.
Orang yang rajin beribadah tetapi masih gemar berdusta, menyakiti orang lain, dan berlaku tidak adil perlu memperbaiki kualitas batinnya.
Kesalehan seharusnya terlihat dalam cara manusia berbicara, bekerja, berkeluarga, dan memperlakukan orang lain.
Karena itu, pendidikan tasawuf harus menghasilkan perubahan perilaku. Penyucian hati tidak boleh berhenti sebagai pembahasan teori, tetapi harus diwujudkan melalui tindakan nyata.
Rendah Hati dan Menjauhi Kesombongan
Kerendahan hati merupakan sifat yang penting dalam kehidupan seorang pencari kebenaran.
Manusia tidak seharusnya membanggakan kekayaan, keturunan, kedudukan, ataupun pengetahuan yang dimilikinya.
Semua kemampuan tersebut merupakan karunia yang harus dipertanggungjawabkan.
Sikap rendah hati juga berarti bersedia menerima nasihat dan mengakui kesalahan. Orang yang selalu merasa benar akan sulit memperbaiki dirinya karena menutup ruang bagi kritik.
Dalam kehidupan sehari-hari, kerendahan hati membantu menciptakan hubungan sosial yang lebih baik dan mengurangi pertengkaran akibat kesombongan.
Kejujuran dalam Perkataan dan Perbuatan
Kejujuran merupakan bagian dari pembinaan akhlak yang ditekankan dalam tradisi pengajaran Abdul Qadir Al-Jailani.
Seorang Muslim harus berusaha menyelaraskan perkataan dengan perbuatannya. Ia tidak seharusnya mengajarkan kebaikan kepada orang lain, sementara dirinya sendiri sengaja melakukan keburukan.
Kejujuran juga berkaitan dengan niat. Seseorang perlu memeriksa apakah tindakan yang dilakukannya benar-benar bertujuan baik atau hanya untuk mendapatkan pengakuan.
Dengan menjaga kejujuran, manusia dapat membangun kepercayaan dan menjalani kehidupan yang lebih bertanggung jawab.
Menjaga Hubungan dengan Sesama Manusia
Kehidupan spiritual tidak berarti memutus hubungan dengan masyarakat.
Abdul Qadir Al-Jailani dikenal melalui aktivitas pengajaran dan dakwah kepada masyarakat Baghdad. Hal ini memperlihatkan bahwa pembinaan rohani juga dapat diwujudkan melalui pelayanan kepada sesama.
Manusia harus menjaga hak orang lain, membantu mereka yang membutuhkan, dan tidak menggunakan agama untuk membenarkan tindakan yang merugikan masyarakat.
Kehidupan tasawuf yang baik tidak membuat seseorang menjauh dari tanggung jawab sosial, melainkan mendorongnya menjadi pribadi yang lebih bermanfaat.
Menjauhi Sifat Riya dan Ujub
Riya adalah kecenderungan melakukan amal agar mendapatkan pujian manusia. Sementara itu, ujub merupakan sikap mengagumi diri sendiri secara berlebihan karena merasa memiliki kelebihan.
Kedua sifat tersebut dapat merusak keikhlasan.
Orang yang terjebak dalam riya lebih memperhatikan penilaian manusia daripada keridaan Allah. Sementara orang yang memiliki sifat ujub cenderung menganggap keberhasilan dan amalnya sebagai hasil kemampuan pribadi semata.
Dalam perjalanan spiritual, manusia harus terus memperbaiki niat dan menghindari keinginan untuk dipuji.
Konsep Ma'rifatullah dalam Ajaran Abdul Qadir Al-Jailani
Pengertian Ma'rifatullah
Ma'rifatullah berarti mengenal Allah melalui keimanan, pengetahuan, dan kesadaran spiritual.
Dalam tasawuf, ma'rifat tidak sekadar berarti mengetahui nama dan sifat Allah secara teoritis. Ia juga berkaitan dengan kesadaran bahwa seluruh kehidupan manusia berada dalam ketergantungan kepada-Nya.
Abdul Qadir Al-Jailani menempatkan pengenalan kepada Allah dalam hubungan dengan ketaatan, penyucian hati, dan pengamalan ajaran agama.
Manusia yang semakin mengenal Allah seharusnya semakin menyadari keterbatasan dirinya. Kesadaran tersebut melahirkan rasa rendah hati dan ketergantungan kepada Allah.
Mengenal Allah melalui Ketaatan
Pengenalan kepada Allah tidak dapat dipisahkan dari ketaatan terhadap perintah-Nya.
Seseorang tidak cukup hanya berbicara tentang cinta dan kedekatan kepada Allah apabila tindakannya bertentangan dengan nilai agama.
Ketaatan merupakan wujud nyata dari kesungguhan seorang hamba dalam menjalani kehidupan spiritual.
Melalui ibadah, doa, zikir, dan pengendalian diri, manusia membangun hubungan yang lebih dekat dengan Allah.
Mengenal Keterbatasan Diri
Salah satu jalan untuk mengenal Allah adalah menyadari keterbatasan manusia.
Manusia tidak mampu mengendalikan seluruh peristiwa dalam kehidupannya. Ia memiliki keterbatasan pengetahuan, kekuatan, dan usia.
Kesadaran tersebut seharusnya tidak membuat manusia berputus asa. Sebaliknya, ia dapat menjadi dasar bagi tumbuhnya tawakal dan kerendahan hati.
Semakin seseorang memahami keterbatasan dirinya, semakin ia menyadari kebutuhan untuk memohon pertolongan Allah.
Zikir dan Pembinaan Kesadaran Spiritual
Zikir sebagai Sarana Mengingat Allah
Zikir merupakan salah satu amalan penting dalam tradisi tasawuf Qadiriyah.
Secara umum, zikir berarti mengingat Allah melalui lisan, hati, dan kesadaran. Zikir dapat dilakukan melalui bacaan yang diajarkan dalam agama maupun melalui kesadaran untuk selalu mengingat Allah dalam kehidupan sehari-hari.
Zikir membantu manusia mengarahkan perhatian kepada Allah dan mengurangi kelalaian yang timbul akibat kesibukan duniawi.
Dalam tradisi yang berkembang melalui Qadiriyah, zikir menjadi bagian dari pembinaan rohani para murid.
Zikir Lisan dan Zikir Hati
Zikir lisan dilakukan dengan mengucapkan kalimat-kalimat zikir, seperti tasbih, tahmid, tahlil, istigfar, dan doa.
Zikir hati berkaitan dengan kesadaran batin yang terus mengingat Allah. Seseorang berusaha menjaga niat dan perilakunya agar tidak terlepas dari kesadaran sebagai hamba.
Keduanya dapat saling melengkapi. Zikir lisan membantu membiasakan lidah mengingat Allah, sedangkan zikir hati membantu mengarahkan kesadaran dan perilaku.
Zikir sebagai Latihan Mengendalikan Diri
Zikir bukan sekadar pengulangan bacaan. Ia juga dapat menjadi latihan untuk menjaga perhatian dan mengendalikan dorongan negatif.
Seseorang yang membiasakan diri mengingat Allah diharapkan lebih berhati-hati sebelum berbicara dan bertindak.
Ketika muncul kemarahan, misalnya, ia berusaha mengingat nilai kesabaran. Ketika muncul kesombongan, ia mengingat bahwa seluruh kemampuan merupakan karunia Allah.
Dengan demikian, zikir memiliki hubungan dengan pembentukan akhlak.
Pemikiran Abdul Qadir Al-Jailani tentang Dunia dan Akhirat
Dunia sebagai Tempat Ujian
Abdul Qadir Al-Jailani menekankan bahwa kehidupan dunia merupakan tempat manusia menjalankan tanggung jawab dan menghadapi ujian.
Kekayaan, kekuasaan, kesehatan, dan kedudukan bukan tujuan tertinggi kehidupan. Semua itu merupakan keadaan yang dapat menjadi ujian bagi manusia.
Orang yang memperoleh kekayaan harus bertanggung jawab terhadap cara memperolehnya dan cara menggunakannya.
Orang yang memiliki kedudukan harus menghindari kesewenang-wenangan. Sementara orang yang mengalami kesulitan perlu menjaga kesabaran dan tetap berusaha.
Tidak Menjadikan Harta sebagai Tujuan Hidup
Harta memiliki manfaat dalam kehidupan manusia, tetapi keterikatan berlebihan terhadap kekayaan dapat membuat seseorang melupakan nilai agama.
Kecintaan terhadap harta dapat mendorong manusia berbuat curang, menipu, dan mengabaikan hak orang lain.
Karena itu, zuhud mengajarkan agar harta ditempatkan sebagai sarana, bukan sebagai tujuan tertinggi.
Seseorang boleh bekerja keras dan memiliki kekayaan, selama ia tidak menjadikan kekayaan tersebut sebagai sesuatu yang menguasai hatinya.
Mengingat Kematian dan Pertanggungjawaban Akhirat
Kesadaran mengenai kematian merupakan bagian dari pendidikan spiritual.
Manusia tidak hidup selamanya. Setiap orang akan meninggalkan dunia dan mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Mengingat kematian bukan berarti menolak kehidupan dunia. Sebaliknya, kesadaran tersebut dapat mendorong manusia menggunakan waktu secara lebih bijaksana.
Ia akan berusaha memperbaiki hubungan dengan Allah, menyelesaikan kewajiban, dan menghindari perbuatan yang merugikan sesama.
Keseimbangan antara Kehidupan Dunia dan Akhirat
Ajaran zuhud Abdul Qadir Al-Jailani tidak harus dipahami sebagai penolakan terhadap seluruh urusan dunia.
Manusia tetap perlu bekerja, membangun keluarga, mencari ilmu, dan membantu masyarakat.
Yang harus dihindari adalah menjadikan urusan dunia sebagai alasan untuk melupakan Allah dan mengabaikan tanggung jawab akhirat.
Keseimbangan tersebut memperlihatkan bahwa tasawuf dapat dijalani di tengah kehidupan sosial, bukan hanya melalui pengasingan diri.
Tarekat Qadiriyah dan Pengaruh Pemikiran Abdul Qadir Al-Jailani
Sejarah Lahirnya Tarekat Qadiriyah
Tarekat Qadiriyah merupakan salah satu tradisi tasawuf yang namanya diambil dari Abdul Qadir Al-Jailani.
Namun, perkembangan tarekat sebagai organisasi dan jaringan spiritual berlangsung secara bertahap setelah wafatnya sang tokoh.
Ajaran, ceramah, dan penghormatan terhadap dirinya diwariskan oleh keluarga, murid, serta generasi penerus. Dari proses tersebut terbentuk jaringan pembinaan rohani yang kemudian dikenal sebagai Qadiriyah.
Oleh karena itu, penting membedakan antara pengajaran spiritual Abdul Qadir Al-Jailani semasa hidup dan perkembangan kelembagaan tarekat pada masa berikutnya.
Qadiriyah kemudian menyebar ke berbagai wilayah dunia Islam dan menjadi salah satu tarekat yang memiliki pengaruh luas.
Ajaran Pokok Tarekat Qadiriyah
Dalam perkembangannya, tradisi Qadiriyah dikenal melalui sejumlah penekanan spiritual yang berhubungan dengan ajaran Abdul Qadir Al-Jailani.
Beberapa tema pentingnya meliputi:
Zikir kepada Allah: Membiasakan diri mengingat Allah melalui bacaan dan kesadaran hati.
Taubat: Menyadari kesalahan dan berusaha kembali kepada jalan yang benar.
Keikhlasan: Menjalankan ibadah dengan niat yang tertuju kepada Allah.
Tawakal: Bersandar kepada Allah setelah berusaha secara sungguh-sungguh.
Zuhud: Tidak membiarkan kecintaan kepada dunia menguasai hati.
Mujahadah: Berjuang mengendalikan hawa nafsu dan memperbaiki akhlak.
Ketaatan kepada syariat: Menjadikan Al-Qur'an dan Sunnah sebagai pedoman kehidupan.
Praktik dan tata cara zikir Qadiriyah dapat berbeda menurut cabang, guru, dan wilayah perkembangannya. Karena itu, tidak semua praktik yang ditemukan dalam tradisi Qadiriyah dapat dianggap sebagai bentuk yang persis sama dengan praktik pada masa Abdul Qadir Al-Jailani.
Perkembangan Qadiriyah di Berbagai Wilayah
Qadiriyah berkembang melalui jaringan ulama, murid, dan komunitas Muslim di berbagai wilayah.
Di Afrika Utara dan Afrika Barat, tarekat ini memiliki pengaruh dalam kehidupan keagamaan masyarakat. Di India, Qadiriyah berkembang melalui hubungan dengan lingkungan ulama, pusat pendidikan, dan jaringan sufi.
Di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, tradisi Qadiriyah juga dikenal dan menjadi bagian dari sejarah perkembangan tasawuf.
Penyebaran tersebut menunjukkan bahwa ajaran Abdul Qadir Al-Jailani memiliki daya pengaruh yang melampaui lingkungan Baghdad tempat ia mengajar.
Perkembangan Qadiriyah di Indonesia
Di Indonesia, nama Abdul Qadir Al-Jailani dikenal luas dalam lingkungan pesantren, majelis zikir, dan tradisi keagamaan masyarakat Muslim.
Ajarannya dipelajari melalui karya-karya yang dinisbatkan kepadanya, ceramah para ulama, serta pengajaran tasawuf.
Salah satu perkembangan penting dalam sejarah tarekat di Indonesia adalah munculnya tradisi Qadiriyah wa Naqsyabandiyah, yang menggabungkan unsur-unsur ajaran dan praktik dari dua tradisi tarekat.
Tradisi tersebut memiliki sejarah tersendiri dan tidak boleh disamakan begitu saja dengan Qadiriyah dalam bentuk awalnya.
Kajian Amsal Bakhtiar mengenai Tarekat Qadiriyah membahas pengaruh tarekat ini serta proses perkembangannya di Indonesia.
Karya-Karya Utama Syekh Abdul Qadir Al-Jailani
Pemikiran Abdul Qadir Al-Jailani dikenal melalui ceramah, pengajaran, dan sejumlah karya yang dinisbatkan kepadanya. Beberapa karya tersebut menjadi rujukan penting dalam kajian tasawuf Sunni.
Namun, kajian akademis mengingatkan bahwa atribusi dan sejarah penyusunan sebagian teks perlu diperiksa secara kritis. Tidak semua karya yang beredar atas namanya memiliki tingkat kepastian kepengarangan yang sama.
Al-Ghunyah li Thalibi Thariq al-Haqq
Al-Ghunyah li Thalibi Thariq al-Haqq merupakan salah satu karya yang paling dikenal dalam tradisi Abdul Qadir Al-Jailani.
Judulnya dapat diterjemahkan sebagai bekal bagi para pencari jalan kebenaran.
Karya ini membahas berbagai persoalan agama, termasuk akidah, fikih, ibadah, akhlak, dan pembinaan spiritual.
Salah satu hal penting dari karya ini adalah penekanannya terhadap hubungan antara ajaran lahiriah dan pembinaan batin. Seorang Muslim harus memiliki pemahaman agama yang benar sekaligus berusaha memperbaiki perilakunya.
Karya tersebut juga memperlihatkan kedudukan Abdul Qadir Al-Jailani sebagai ulama yang memberikan perhatian besar terhadap pendidikan agama secara menyeluruh.
Futuh al-Ghaib
Futuh al-Ghaib merupakan kumpulan nasihat dan ceramah spiritual yang sangat dikenal dalam tradisi tasawuf.
Karya ini membahas hubungan manusia dengan Allah, keikhlasan, tawakal, kesabaran, zuhud, dan perjuangan melawan hawa nafsu.
Di dalamnya terdapat nasihat agar manusia tidak terlalu bergantung kepada kehidupan dunia dan tidak menjadikan keinginan pribadi sebagai pusat kehidupannya.
Abdul Qadir Al-Jailani juga mengingatkan pentingnya menerima ketentuan Allah tanpa meninggalkan usaha dan tanggung jawab.
Karya ini menjadi salah satu rujukan utama bagi pembaca yang ingin memahami ajaran spiritualnya.
Al-Fath al-Rabbani
Al-Fath al-Rabbani dikenal sebagai kumpulan pengajaran dan ceramah Abdul Qadir Al-Jailani.
Karya ini memuat nasihat mengenai keimanan, kehidupan spiritual, pembinaan akhlak, dan hubungan manusia dengan Allah.
Pembahasannya memperlihatkan perhatian besar terhadap persoalan kehidupan sehari-hari. Manusia diajak untuk memperbaiki niat, meninggalkan sifat tercela, dan menjadikan agama sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan.
Melalui ceramah-ceramah tersebut, Abdul Qadir Al-Jailani menyampaikan tasawuf dengan bahasa nasihat yang dekat dengan persoalan masyarakat.
Sirr al-Asrar wa Mazhar al-Anwar
Sirr al-Asrar wa Mazhar al-Anwar merupakan karya yang dikenal luas dalam tradisi literatur tasawuf yang dikaitkan dengan Abdul Qadir Al-Jailani.
Buku ini membahas persoalan spiritual, penyucian hati, zikir, dan perjalanan rohani manusia.
Akan tetapi, status kepengarangan karya ini perlu disampaikan secara hati-hati. Kajian akademis mengenai karya-karya yang dinisbatkan kepada Abdul Qadir Al-Jailani menunjukkan bahwa tidak semua teks yang beredar atas namanya dapat dipastikan berasal langsung darinya.
Karena itu, karya tersebut dapat disebut sebagai bagian dari tradisi literatur yang dinisbatkan kepadanya, dengan catatan bahwa autentisitasnya masih menjadi persoalan penelitian.
Perbandingan Pemikiran Abdul Qadir Al-Jailani dengan Tokoh Sufi Lain
Abdul Qadir Al-Jailani dan Al-Ghazali
Al-Ghazali merupakan tokoh yang sama-sama memberikan perhatian besar terhadap penyucian jiwa dan hubungan antara syariat dengan tasawuf.
Al-Ghazali banyak membahas penyakit hati, keikhlasan, makrifat, dan pengendalian hawa nafsu. Pemikirannya menunjukkan bahwa pengetahuan agama perlu disertai pembinaan akhlak.
Abdul Qadir Al-Jailani juga menekankan hal-hal tersebut, terutama melalui ceramah dan nasihat spiritualnya.
Perbedaannya terletak pada bentuk penyampaian dan fokus karya. Al-Ghazali dikenal melalui penyusunan karya sistematis seperti Ihya Ulumuddin, sedangkan Abdul Qadir Al-Jailani dikenal melalui pengajaran, ceramah, dan nasihat yang menjadi rujukan dalam tradisi Qadiriyah.
Abdul Qadir Al-Jailani dan Junaid Al-Baghdadi
Junaid Al-Baghdadi dikenal melalui pemikirannya mengenai tasawuf yang seimbang dengan syariat, pengendalian diri, dan kesadaran spiritual.
Keduanya memiliki perhatian terhadap pentingnya menjaga ajaran agama dalam perjalanan tasawuf.
Junaid dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam perkembangan tasawuf Sunni awal. Abdul Qadir Al-Jailani kemudian menjadi tokoh berpengaruh dalam tradisi tasawuf Sunni melalui pengajaran dan pembinaan spiritual di Baghdad pada abad ke-12.
Keduanya memperlihatkan bahwa kedalaman spiritual tidak harus bertentangan dengan ketaatan terhadap ajaran Islam.
Abdul Qadir Al-Jailani dan Ibnu Arabi
Ibnu Arabi dikenal melalui pemikirannya mengenai wahdat al-wujud, tajalli, dan hubungan antara Tuhan dengan alam.
Sementara itu, Abdul Qadir Al-Jailani lebih dikenal melalui ajaran penyucian hati, keikhlasan, tawakal, zuhud, dan pembinaan akhlak.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa tasawuf memiliki beragam corak. Ada tokoh yang lebih menonjol dalam pembahasan metafisika, sementara tokoh lain lebih dikenal melalui pendidikan moral dan praktik spiritual.
Abdul Qadir Al-Jailani menempatkan pembinaan akhlak dan ketaatan agama sebagai bagian penting dari perjalanan menuju Allah.
Abdul Qadir Al-Jailani dan Jalaluddin Rumi
Jalaluddin Rumi dikenal melalui ajaran cinta Ilahi, kerinduan kepada Tuhan, dan perjalanan jiwa.
Keduanya sama-sama memberikan perhatian terhadap perubahan batin manusia dan pentingnya mendekatkan diri kepada Allah.
Rumi banyak menyampaikan gagasannya melalui puisi dan kisah simbolis, sedangkan Abdul Qadir Al-Jailani dikenal melalui ceramah, nasihat, dan pengajaran agama.
Meskipun berbeda dalam gaya penyampaian, keduanya memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan tradisi spiritual Islam.
Relevansi Pemikiran Abdul Qadir Al-Jailani bagi Kehidupan Modern
Menjaga Keikhlasan di Tengah Budaya Pencitraan
Kehidupan modern membuat manusia semakin mudah menampilkan aktivitas dan pencapaiannya kepada orang lain.
Media sosial dapat menjadi sarana berbagi pengetahuan dan kebaikan, tetapi juga dapat mendorong seseorang mencari pengakuan secara berlebihan.
Ajaran keikhlasan Abdul Qadir Al-Jailani mengingatkan bahwa nilai suatu perbuatan tidak hanya ditentukan oleh penilaian manusia.
Seseorang perlu memeriksa kembali niatnya agar tidak menjadikan pujian dan popularitas sebagai tujuan utama.
Mengendalikan Hawa Nafsu dan Keinginan Berlebihan
Masyarakat modern menghadapi banyak dorongan konsumsi, persaingan, dan keinginan untuk memiliki lebih banyak.
Keinginan tersebut tidak selalu buruk, tetapi dapat menjadi masalah apabila membuat manusia kehilangan kendali.
Ajaran mujahadah mengajak manusia untuk mengenali batas kebutuhan dan mengendalikan dorongan yang merugikan dirinya maupun orang lain.
Sikap ini dapat diterapkan dalam mengelola keuangan, penggunaan teknologi, hubungan sosial, dan kebiasaan sehari-hari.
Tawakal dalam Menghadapi Ketidakpastian
Kehidupan modern penuh dengan perubahan dan ketidakpastian. Manusia dapat mengalami kegagalan pekerjaan, masalah ekonomi, atau perubahan keadaan yang tidak dapat diperkirakan.
Ajaran tawakal membantu manusia menghadapi keadaan tersebut dengan lebih tenang.
Tawakal bukan berarti berhenti berusaha. Seseorang tetap perlu merencanakan masa depan, meningkatkan kemampuan, dan mencari solusi.
Setelah berusaha secara maksimal, ia belajar menerima hasil dengan lapang dada dan tidak kehilangan harapan kepada Allah.
Zuhud sebagai Pendidikan Kesederhanaan
Budaya konsumtif dapat membuat manusia terus mengejar barang, kekayaan, dan status sosial.
Zuhud mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak semata-mata ditentukan oleh banyaknya harta yang dimiliki.
Manusia perlu membedakan kebutuhan dan keinginan agar tidak diperbudak oleh sesuatu yang bersifat sementara.
Kesederhanaan bukan berarti menolak kemajuan, tetapi menggunakan apa yang dimiliki secara bijaksana dan bertanggung jawab.
Menjadikan Ibadah sebagai Dasar Pembentukan Karakter
Ajaran Abdul Qadir Al-Jailani menekankan bahwa ibadah harus membawa perubahan dalam perilaku.
Salat seharusnya membantu manusia menjauhi perbuatan buruk. Puasa seharusnya melatih pengendalian diri. Zikir seharusnya membantu menjaga kesadaran dan kejujuran.
Dengan demikian, agama tidak hanya menjadi identitas atau rutinitas, tetapi juga sumber pembentukan karakter.
Membangun Kepedulian Sosial
Tasawuf tidak seharusnya membuat manusia mengabaikan kehidupan masyarakat.
Ajaran kepedulian dan akhlak mengajak manusia membantu sesama, menjaga keadilan, menghormati hak orang lain, dan menggunakan kemampuan yang dimiliki untuk kebaikan.
Pemikiran ini sangat relevan dalam masyarakat yang menghadapi kesenjangan sosial, konflik, dan berbagai persoalan kemanusiaan.
Kritik dan Catatan Akademis tentang Pemikiran Abdul Qadir Al-Jailani
Membedakan Sejarah dan Tradisi Karamah
Abdul Qadir Al-Jailani memiliki kedudukan sangat tinggi dalam tradisi penghormatan kaum Muslim. Seiring berjalannya waktu, berbagai kisah karamah dan keistimewaan spiritual berkembang dalam literatur biografi.
Kisah-kisah tersebut merupakan bagian dari sejarah penerimaan dan penghormatan terhadap dirinya. Namun, pembaca perlu membedakan antara informasi sejarah yang dapat ditelusuri dan kisah yang berkembang dalam tradisi hagiografi atau biografi tokoh suci.
Bruce B. Lawrence dalam kajiannya di Encyclopaedia Iranica membahas perbedaan sumber biografi mengenai Abdul Qadir Al-Jailani, termasuk perbedaan antara riwayat yang lebih awal dan biografi yang berkembang kemudian.
Perkembangan Tarekat Setelah Masa Hidupnya
Abdul Qadir Al-Jailani sering disebut sebagai pendiri Tarekat Qadiriyah. Akan tetapi, secara historis, perkembangan tarekat sebagai jaringan kelembagaan berlangsung secara bertahap setelah wafatnya.
Pengajaran dan pengaruh spiritualnya menjadi dasar bagi tradisi yang diwariskan oleh murid dan generasi penerus.
Dengan demikian, tidak tepat jika seluruh struktur organisasi, tata cara, dan praktik Qadiriyah yang dikenal pada masa kemudian dianggap sudah terbentuk secara lengkap ketika Abdul Qadir Al-Jailani masih hidup.
Tidak Menyamakan Semua Praktik Qadiriyah
Qadiriyah berkembang di berbagai wilayah dan memiliki cabang serta tradisi lokal yang beragam.
Perbedaan tersebut dapat terlihat dalam tata cara zikir, susunan pengajaran, dan bentuk kegiatan komunitas.
Karena itu, pembahasan mengenai ajaran Abdul Qadir Al-Jailani perlu dibedakan dari praktik-praktik yang berkembang pada cabang tarekat tertentu pada masa berikutnya.
Menempatkan Ajarannya dalam Konteks Sejarah
Pemikiran Abdul Qadir Al-Jailani berkembang dalam lingkungan Baghdad abad ke-12 yang memiliki tradisi keilmuan dan keagamaan yang beragam.
Ia tidak hanya dikenal sebagai tokoh sufi, tetapi juga sebagai ahli fikih Hanbali dan pendakwah.
Memahami latar belakang tersebut membantu pembaca melihat bahwa ajarannya merupakan perpaduan antara pendidikan agama, pembinaan akhlak, dan kehidupan spiritual.
Kesimpulan: Warisan Pemikiran Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam Dunia Tasawuf
Syekh Abdul Qadir Al-Jailani merupakan salah satu tokoh penting dalam sejarah tasawuf Islam. Pemikirannya menekankan bahwa perjalanan menuju Allah harus dimulai dengan penyucian hati, keikhlasan, tawakal, zuhud, dan perjuangan melawan hawa nafsu.
Ia mengajarkan bahwa kesalehan tidak cukup diwujudkan melalui ibadah lahiriah. Manusia juga harus membersihkan batinnya dari kesombongan, keserakahan, iri hati, riya, dan sifat-sifat tercela lainnya.
Dalam pandangannya, syariat dan tasawuf harus berjalan bersama. Syariat menjadi pedoman kehidupan, sedangkan tasawuf membantu manusia memahami makna batin dari ketaatan dan ibadah.
Pemikiran tersebut kemudian memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan Tarekat Qadiriyah, yang menyebar ke berbagai wilayah dunia Islam dan menjadi bagian penting dari sejarah tasawuf di Indonesia.
Warisan terpenting Abdul Qadir Al-Jailani bukan hanya popularitas namanya atau berkembangnya tarekat yang dikaitkan dengannya, melainkan pesan spiritual bahwa kedekatan kepada Allah harus tercermin dalam keikhlasan, kerendahan hati, kesabaran, dan akhlak yang baik.
Ajarannya tetap relevan untuk kehidupan modern karena mengingatkan manusia agar tidak diperbudak oleh harta, popularitas, dan hawa nafsu. Manusia perlu bekerja dan menjalani kehidupan dunia, tetapi hatinya harus tetap diarahkan kepada Allah.
Referensi dan Daftar Pustaka Pemikiran Syekh Abdul Qadir Al-Jailani
Karya yang Dinisbatkan kepada Abdul Qadir Al-Jailani
Abdul Qadir Al-Jailani. Al-Ghunyah li Thalibi Thariq al-Haqq. Karya mengenai akidah, fikih, ibadah, akhlak, dan pembinaan spiritual.
Abdul Qadir Al-Jailani. Futuh al-Ghaib. Kumpulan nasihat dan ceramah mengenai kehidupan spiritual, tawakal, zuhud, dan penyucian hati.
Abdul Qadir Al-Jailani. Al-Fath al-Rabbani. Kumpulan pengajaran dan ceramah tentang keimanan, akhlak, serta perjalanan rohani.
Sirr al-Asrar wa Mazhar al-Anwar. Karya yang dinisbatkan kepada Abdul Qadir Al-Jailani dalam tradisi literatur tasawuf; status kepengarangannya perlu diperiksa secara kritis.
Buku dan Kajian Akademis
Malik, Hamza. 2018. The Grey Falcon: The Life and Teaching of Shaykh Abd al-Qadir al-Jilani. Leiden: Brill.
Lawrence, Bruce B. “Abd-al-Qader Jilani.” Encyclopaedia Iranica. Kajian mengenai kehidupan, karya, dan perkembangan tradisi Qadiriyah.
Allen, Jonathan dan Ahmet T. Karamustafa. “Abd al-Qadir al Jilani (Gilani).” Oxford Bibliographies in Islamic Studies. 2014.
Trimingham, J. Spencer. 1971. The Sufi Orders in Islam. Oxford University Press.
Bakhtiar, Amsal. “Tarekat Qadiriyah: Pelopor Aliran-aliran Tarekat di Dunia Islam.” Refleksi: Jurnal Kajian Agama dan Filsafat.
